Wednesday, December 10, 2014

Innalillahi wa innailaihi roji'un

BY retnobanarti.blogspot.com 6 comments

Innalillahi wa innailaihi roji'un

Innalillahi wa innailaihi roji'un

Innalillahi wa innailaihi roji'un..

Dan pada akhirnya satu per satu orang yang kita sayangi akan pergi meninggalkan kita..


Foto ini diambil sekitar setahun yang lalu November 2014 ketika simbah kakung, simbah putri, dan bapak berangkat haji.

Entah tak ada firasat yang begitu terlihat, hanya saja hari kemarin dari siang sampai sore mata sebelah kananku kedutan terus tak berhenti. Kedutan adalah istilah bahasa jawa yang menggambarkan mata sedikit merasakan gerakan tanpa kita sadari secara nyata, entah aku tak tau sebutan istilah ini dalam bahasa indonesia. Tapi aku tak berfikir apa-apa soal kejadian itu. Karena pada mitosnya, kalau mata kanan yang kedutan adalah kita akan mendapat rejeki dan kebahagiaan, namun kalau mata kiri yang kedutan artinya kita akan mendapat berita sedih, atau sebaliknya aku kurang mengingat arti mitos tersebut. Entah juga mitos itu datang darimana.

Aku mencoba menepis tentang segala tanya apa arti dari kedutan dimataku itu. Aku kembali berfikir, itu kan cuma mitos, ngapain dipikirin?

Yang entah terlalu capek menjalani rutinitas seharian dikantor atau apa, sampai di kos saat maghrib aku tidur-tiduran dan akhirnya tertidur lelap masih memakai baju kerja. Sesekali aku terbangun aku melihat jam menunjukan pukul 19.30 dan aku masih malas bangun lalu melanjutkan tidur lagi.

Kemarin, 10 Desember 2014 pukul 22.55 tiba-tiba handphoneku berdering, aku terbangun dengan sayup-sayup aku melihat nama di layar handphoneku siapa yang menelponku malam-malam seperti ini. Ternyata nama yang muncul adalah mamahku. Aku bertanya-tanya kenapa beliau menelponku malam-malam seperti ini yang biasanya dirumah beliau sudah tertidur dengan lelapnya, ada apa gerangan? Untuk menjawab tanyaku tersebut, aku angkatlah telepon dari mamahku tersebut. Ternyata beliau mau memberikan kabar kalau simbah kakung meninggal, Innalillahi wa innailaihi roji'un, aku terperanjat kaget tidak mengira sama sekali karena tidak ada kabar bahwa sebelum ini simbah sakit atau apa.

Ternyata simbah kakung sudah masuk rumah sakit dari hari Sabtu, 6 Desember 2014. Tapi sengaja orang rumah tidak memberitahuku, takut aku kepikiran dan segala macam. Aku kecewa, aku sedih, tapi aku mencoba mengerti maksud baik mereka.

Simbah kakung memang sudah lama bermasalah dengan paru-parunya, karena kebiasaannya dulu merokok. Namun aku juga tak mengerti terlalu dalam tentang medis, terakhir kemarin aku tanya simbah sakit apa pada mamahku dan beliau menjawab kalau simbah kakung kemarin didagnosa paru-paru basah. Kemarin katanya sudah sempat disedot, tapi setelah itu malah lemas, hanya begitu kiranya penjelasan dari mamahku.

Aku kehilangan sosok malaikat kecilku. Malaikat yang selalu menjagaku yang bisa membuatku damai kala aku bercerita dan bercanda dengannya. Malaikat yang selalu tersenyum kala aku datang menjenguk dan menginjakkan kaki dirumahnya, yang sedang dimanapun ia pergi kalau tau cucunya datang pastilah langsung pulang ke rumah. Malaikat yang sangat bersahaja dan rendah hati, tak menginginkan apa-apa kecuali bahagia anak dan cucu-cucunya. Beliau yang hidup nrimo dan legowo atas segala keadaan yang ada, yang bahkan sampai tak ia hiraukan dirinya sendiri. Dan sosok yang tergurat keikhlasan di wajah mulianya, yang tak pernah mengeluhkan segala keadaan yang ada. Serta malaikat yang sempat melontarkan sebuah kalimat kepada teman seumurannya saat aku kecil dulu yang takkan pernah ku lupakan "retno itu sangat sayang dan perhatian, aku senang punya cucu seperti dia." - dalam terjemahan bahasa indonesia.




Foto tersebut diambil 2 bulan yang lalu Oktober 2014 ketika aku pulang ke rumah dan aku sempatkan mengunjungi beliau di desa. Yang ternyata saat itulah terakhir kali aku dapat berjumpa, melihat fisik beliau yang sudah rapuh, mata yang sudah sayu, dan bercakap bercerita tentang segala hal kehidupan dengan beliau. Saat aku pulang pasti aku meyempatkan untuk mengunjungi sodara terutama simbah-simbahku, saat mereka masih bisa melihat kedatanganku dengan senyum mereka. Hanya hal itu yang bisa aku lakukan sesekali karena tempat kerjaku yang jauh. Sudah 2 bulan sejak saat itu aku belum mengunjungi beliau, yang betapa aku mengerti tempat kerjaku yang jauh mengisyaratkan uang tak bisa membeli kebahagiaan dan kebersamaan. Simbah maafkan aku yang tak bisa mengunjungimu tiap waktu sampai saat kau telah pergi terlebih dahulu meninggakan kita semua.

Selamat jalan simbah kakung, semoga khusnul khotimah simbah. Segala amal dan ibadah diterima Allah SWT, dimudahkan segala urusan di akhirat, insyaAllah surga. Aamiin, aamiin, aamiin ya Rabbal'alamin..

Peluk dan cium cucumu dari jauh.. :)


6 comments:

  1. I'm sorry to hear that girl..
    semoga khusnul khotimah
    Aamiin

    ReplyDelete
  2. sami-sami...

    how's life you there? how about the new atmosphere . . .
    sudah bisa beradaptasi kaan? :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Great, how about you?
      Alhamdulillah pelan2 bisalah beradaptasi, tapi ya kampung halaman masih takkan terganti, hehe.

      Delete
  3. nice to hear that, girl.. life's good.
    btw.. where will you spend the holiday this year? Malysia? Thailand? Bali?

    ReplyDelete