Halloo,
Selamat datang tahun 2017!
Udah lama banget ya ga ngepost apa-apa, sepi amat ini blog. Apalagi sekarang udah punya baby, hmm, nambah berkurang lagi jatahku untuk bersibuk ria sendiri, its oke baby Arkan.
![]() |
Baby Arkana habis mandi pagi, lucu kan, mirip siapa hayo? |
Sebelumnya, aku bekerja di Pulau lain yaitu Bangka Belitung, padahal aku
berasal dari Magelang yang pengen memanfaatkan waktu cuti yang ada untuk
melahirkan anakku di tanah kelahiranku. Sempet dag dig dug juga ya naik pesawat
dalam keadaan hamil gede, alhamdulillah overall semua
berjalan dengan lancar tibalah aku tanggal 14 Oktober 2016 di
tanah kelahiranku. Kalau belum yakin, plis jangan males-males buat cari info tentang penerbangan kondisi ibu hamil ya, termasuk syarat-syarat yang diberikan oleh maskapai karena beda maskapai beda pemberlakuan syarat penerbangan seperti batas usia kehamilan. Jangan lupa juga meminta surat keterangan sehat atau layak terbang dari dokter obsgyn (ini wajib! tanggal check up minimal 7 hari dari keberangkatan).
Seminggu di rumah ku jalani masih dengan wajar dan normal karena memang selama
kehamilan aku rutin check up ke dokter obsgyn untuk memastikan keadaan kandunganku
baik-baik saja, dan alhamdulillah tidak ada masalah serius yang harus
ditangani. Ya kalau cuma mual-mual muntah, gatel-gatel, lemes, bawaan males
(haha) its a normal dialami ibu hamil di seluruh penjuru dunia manapun. Gak perlu obat-obatan segala macem, cukup dijalanin dengan enjoy dan gembira ria karena beneran nanti ketika sudah melahirkan you would miss your pregnancy very bad!
21 Oktober 2016 yang artinya tepat seminggu keberadaanku dirumah adalah
saat-saat yang sangat mendebarkan dan mencemaskan untukku, yang baru pertama
kali ku alami suasana yang sangat mencekam (sorry,
ini memang gak lebay) detik-detik saat baby Arkan mau dilahirkan (kok kamu gak
sabaran sih dek, sebenernya kan 5 hari lagi ultah ibuk, biar samaan gitu
tanggalnya ngirit ngrayainnya, loh -___-).
Baby Arkan terpaksa dilahirkan saat usia kandunganku baru 37weeks, yang sebenernya hal tersebut
tidak menjadi masalah karena memang itu waktu minimal bayi siap untuk
dilahirkan.
Pukul 15.30 aku mengalami pecah ketuban, dan bodohnya karena kurang
pengetahuan aku gak begitu tau kalau air yang keluar itu adalah air ketuban. Namun
setelah hal tersebut terjadi aku sempet duduk-duduk dan selama 1 jam mencari
informasi tentang air ketuban karena aku merasa ada hal yang agak ganjal dari keluarnya air tersebut. Belum begitu yakin sih air yang keluar itu adalah air ketuban, namun setelah 1 jam beristirahat dan aku ingin berjalan air itu keluar lagi, yaudahlah fix aku meyakini itu adalah air ketuban.
Langsung panik, manggil mamah, telpon suami yang kebetulan saat itu dia
lagi di rumah Jogja, nyuruh segera pulang ke Magelang. Setelah itu langsunglah
ke klinik kesehatan terdekat dan periksa, cukup mengkhawatirkan karena detak jantung baby Arkan sempet tinggi 180/m, yang normalnya hanya 140-160/m. Perawat juga ga berani ngecek sudah bukaan atau belum karena riwayat kehamilanku plasenta previa (plasenta berada di bawah), walaupun saat itu memang tidak ada kontraksi sama sekali. Setiap menit diadakan observasi untuk kandunganku, saat observasi berikutnya detak jantung baby Arkan yang tadinya sangat tinggi mendadak melambat banget banget sumpah aku yang mendengarnya udah merinding. Udah paniklah si perawat-perawat itu, lalu aku cepat-cepat dirujuk ke rumah sakit bersalin. Waktu itu dapat di Rumah Sakit Islam Magelang karena katanya dokter yang siap ambil tindakan ada di sana. Sampai dirumah sakit masih observasi periksa-periksa dan wawancara. Dan dokter jaga memberikan pilihan, apakah mau observasi dulu 1x24 jam tentang air ketuban dengan risiko jika ketuban masih keluar terus baby Arkan tetap harus dilahirkan dengan operasi sectio (cesar), atau memilih melahirkan sekarang juga dengan jalan yang sama. Waktu itu sudah semakin malam sudah menunjukkan hampir pukul 21.00, dan dokter mengatakan kalau misalkan mau cesar sekarang masih bisa disiapkan tim medisnya, dan aku mengiyakan dengan hanya berpikir sejenak. Takut banget sebenernya mengambil keputusan besar dengan waktu hitungan menit saja, namun percayalah semua sudah digariskan dan kami hanya bisa berdoa untuk yang terbaik.
Dulu pernah under estimate dengan ibu yang melahirkan melalui sectio, finally aku ngerasainnya sendiri. Sumpah, gak seenak keliatannya. Memang sih gak sakit saat proses melahirkan, tapi hmmm, baca dulu deh pengalamanku ini.
- Pertama, kelahiran dengan proses sectio kebanyakan adalah ibu dengan kandungannya yang agak bermasalah, seperti aku ini dengan riwayat KPD (Ketuban Pecah Dini).
- Kedua, aku tidak menggunakan pembiusan total, artinya yang mengalami pembiusan adalah perut kebawah, dan ini bener2 sakit saat disuntik obat bius di tulang belakang kita.
- Ketiga, proses sectio memang sangatlah singkat sekitar 30-45 menit dengan pembagian waktu penyobekan dan pengambilan bayi berlangsung saat singkat (aku aja gak percaya kayaknya baru 5 menit udah denger tangisan baby Arkan). Yang agak lama adalah proses penjaitan rahim dan perut yang berlapis-lapis itu. Saat penjaitan itulah aku sudah gak kuat deg-degan kok gak selesai-selesai, padahal udah kayak pegel-pegel. Sempet aku gerak-gerak karena udah gak tahan nahan pegel dan deg-degan sampai dokternya bilang kenapa sebentar lagi kok sabar ya, hehehe.
- Keempat, yakinlah setelah operasi selesai, obat bius baru bisa hilang 2-3 jam, dan selama itu aku sama sekali tidak bisa menggerakkan kaki, dan itu gak enak banget.
- Kelima, setelah obat bius hilang, perasaan lega, tapi diganti dengan sakit bekas luka sayatan operasi, hiks hiks. Kalau melahirkan normal sakitnya saat proses melahirkan, nah kalau sectio sakitnya setelah melahirkan, sekitar 2 minggu aku baru bisa merasa sedikit normal.
![]() |
Baby Arkan usia beberapa jam setelah dilahirkan |
Tapi semua itu terbayar saat melihat baby Arkan didorong menggunakan box
masuk ke ruang bangsal rawat gabung dengan ibu. Alhamdulillah pukul 22.55 baby Arkan dapat dilahirkan dengan selamat melalui proses sectio, BB 2500gram (mungil ya), panjang 47cm, dan riwayat KPD selama 7jam.
Oya nama panjangnya Muhammad Arsyad Arkana, panggilan Arkan or Arkana. Nama itu didapat setelah beberapa hari debat ketika baby Arkan sudah lahir. Si ayah nih gak siap-siap nama dari dulu bawaannya galauan kalau ditanya nama, huhuu. Alhasil nama itu di dapat dari kombinasi 3 orang: Muhammad (dari mamahku), Arsyad (dari bapak mertua), Arkana (dari suami), dan apalah aku ini seorang ibu yang bertugas melahirkan si baby tidak mendapat jatah memberi nama, hehehe. Walau begitu sudah cukup happy banget melihat baby Arkan tidur pulas kala itu. Now, im a super happy mommy :*
Inilah pengalamanku melahirkan seorang bayi lucu anugerah terindah dari
Alloh, terimakasih untuk segala nikmat karunia-Mu. Untuk cerita selanjutnya
serba serbi merawat bayi dan pola tingkah bayi yang sama sekali belum aku
ketahui sebelumnya, ya emang bener sih anak pertama itu serba coba-coba, yah
inilah yang aku rasain.
Punya pengalaman dan pertanyaan, berbagi yuk dikomentar!
Punya pengalaman dan pertanyaan, berbagi yuk dikomentar!
Selamat datang ke dunia baby Arkan! Welcome to motherhood mbak Retno. :)
ReplyDeletehehehe, terimakasih mbak Diski. Kemaren sempet ngintip tulisan mbak, alhamdulillah agak tercerahkan. :))
Delete