Tuesday, February 11, 2014

I Love Living in My Hometown

BY retnobanarti.blogspot.com IN , , , No comments

Hi February... :)

Inilah senang dan kesedihan yang membaur secara bersama. Senang karna masa depanku sudah di depan mata, tinggal bagaimana aku memanfaatkan dan menggapainya. Sedih ketika aku harus meninggalkan zona nyamanku, semua yang berharga yang aku miliki sejenak untuk masa depanku. Kota kecilku, keluarga besarku, dan semua teman-teman terbaik yang pernah aku miliki.

Kerasnya kehidupan di Ibukota harus aku taklukan, sedikit lebey memang, tapi itulah sederet kata-kata orang tentang ibukota, yang katanya lebih kejam daripada ibu tiri. :D

Hari demi hari aku lewati disini, dengan rutinitas yang lumayan membosankan bagiku, pagi-pagi harus sudah siap berangkat ke kantor dan sore-sore banget baru pulang, hampir maghrib baru sampai kos dan udah tak kuasa menahan capek dengan rutinitas yang ada dari kerjaan. Hari kerja seperti biasa dari Senin-Jumat yang berlangsung sangat lama. Dan bisa beristirahat sejenak dari rutinitas hanya di hari Sabtu dan Minggu yang berlangsung begitu cepat yang biasanya ku habiskan main bersama teman-temanku, lumayan asik dan menghibur.

Hidup mandiri di kamar kosan tanpa keluarga yang mendampingi adalah sebuah hal berat untukku, jauh dari mereka merupakan hal yang sangat aku keluhkan, apalagi ditambah beban kerja yang akan menjadi tanggung jawabku ke depan. Pekerjaan baru, lingkungan baru, rekan-rekan baru yang akan banyak dari kalangan atasan yang sebagian orang tua yang harus dihormati dan banyak di patuhi. Yang dulunya dirumah semua sudah tersedia, makan tak perlu mencari sendiri, mau ini itu bisa tinggal suruh, mencuci baju, perlengkapan, bahkan kamar sudah ada yang menata. Dan sekarang semua harus ku lakukan sendiri, sendirian, mandiri, mencari uang sendiri dan membelanjakannya dengan penuh tanggung jawab sendiri, bahkan harus menabung juga dong yang banyak malah :D. But nevermind, sekiranya semua ini akan terasa mudah kalau ada keluarga di sampingku, namun, ah ya sudahlah sudah semestinya semua berjalan seperti ini. Dulu saat aku masih belajar di Universitas di Solo saja aku agak ga betah, padahal jaman kuliah tau bangetlah siang cuma kuliah beberapa jam selebihnya kumpul sama temen-temen, yang main atau entah hanya sekedar menghabiskan waku bersama, tidak ada beban, belajar aja kalau pas mau ujian aja. Tapi keluarga adalah segalanya, pulang ke rumah adalah rutinitas bagiku, jarak tempuh perjalanan + 3 jam aku lewati dengan pulang setiap 2 minggu sekali di weekend, dan itu harus. Dan sekarang, Jakarta-Magelang ditempuh dalam waktu 8 jam dengan kereta, itu udah paling cepat, aku harus pulang kapan? Dengan kepadatan rutinitasku disini.. Mom, you know how bad i miss you?

Sudah lumayan aku menjalani rutinitas seperti ini, kiranya aku sudah agak bisa beradaptasi dengan semuanya, namun ternyata belum. Aku masih sering mengeluh dalam diriku sendiri. Ingin rasanya meninggalkan semua ini, tapi bagaimana? Ini juga demi masa depanku sendiri. Itulah tekad yang seringnya menguatkanku. Kalo udah begini,mau tak mau aku harus menjalaninya dengan ikhlas, berharap yang terbaik untuk semuanya. Hanya masih sering teringat dengan kesalahan-kesalahan di masa lalu yang terus menghantui, betapa dulu aku sangat menjadi orang yang tidak baik, namun toh sekarang aku sudah menyadari dan sudah berusaha menjadi lebih baik, tapi kenapa hati ini tak kunjung menjadi tenang untuk melakukan semua aktifitasku disini? Mom, i need you..

Jujur, dari dulu tak pernah terlintas untuk hidup lebih lama di kota ini, kota yang sangat penuh sesak dengan para penduduk yang kebanyakan orang rantau yang sedang mencari rejeki sepertiku. Aku memang tak begitu suka dengan kehidupan perkotaan, yang aku suka adalah kehidupan damai di desa, desa tempatku dibesarkan tentunya. Disini, aku tak bisa melihat hijau pepohonan rindang yang menghiasi jalanan, hijau bukit dan gunung yang menjadi pemandangan favoritku, hamparan sawah hijau lapang yang bisa menjadi penyegar bagi mataku. Yang ada tak lain hanya jalanan besar, gedung bertingkat pencakar langit, lalu lintas kendaraan yang memadati setiap jalan dengan berbagai polusi yang ditimbulkan, dan kesibukan orang yang berlalu lalang dengan keindividualnya mereka. Oh, hidup dimanakah aku ini? Setelah nanti berkeluarga pun aku tak punya cita-cita untuk hidup bersama suami dan anak-anakku kelak di sini, aku tidak suka. Dengan lingkungan dan pergaulannya, aku ingin hidup damai di desa, membangun impian kita bersama di sana, desa yang menjadikan impian tidak sesederhana kelihatannya seperti layaknya hidup sederhana di desa. Dari dulu yang aku cita-citakan, aku tak ingin hidup bermewah-mewah, hanya cukup saja, normally, yang lebih semoga aku mendapat rejeki yang banyak untuk bisa lebih membantu sesama orang yang lebih membutuhkan, Aamiinn ya Allah..




Aku juga sudah memutuskan untuk karirku ke depan. Sebentar lagi aku akan melaksanakan diklat di pekerjaanku, dan setelah lulus diklat insyaAllah aku akan mendapatkan penempatan kerja. Untuk mendapat penempatan kerja di Jawa sungguh kiranya sangat sulit, karna memang formasi kerja di Jawa di instansiku tidak dibuka untuk sekarang, tapi semoga saja bisa berubah menjadi ada, Aamiinn. Kalaupun memang tidak ada, aku akan lebih memilih untuk penempatan di luar Jawa daripada di Jakarta ini, semoga aku mendapat penempatan di pulau yang dekat dengan Jawa, Bali misalnya, aku pengen kerja di sana dulu sebelum bisa pindah mutasi kerja mengikuti suamiku nanti..

Semoga siapapun suamiku nanti, dia bisa menerimaku dengan apa adanya, tak mempermasalahkan pekerjaan dan penempatan dimana aku berkerja, kalau memang harus LDR dulu sebentar setelah kita menikah nanti semoga dia ikhlas dan mampu menjaga hati dan dirinya untukku istrinya seorang, Aamiinn ya Allah..

Sincerely, your beloved future wife.. :)

0 comments:

Post a Comment